Tahun Pertama Iqbal-Dinda dan Lompatan Biru NTB
www.bikeuniverse.net – Tahun pertama Iqbal-Dinda menghadirkan babak baru bagi kelautan serta perikanan di Nusa Tenggara Barat. Pergeseran arah kebijakan terasa jelas: laut bukan sekadar pemandangan, melainkan fondasi ekonomi. Pasangan ini datang dengan janji mengangkat nelayan, memperkuat budidaya, serta mempercepat industrialisasi hasil tangkap. Pertanyaannya, seberapa jauh capaian konkret selama dua belas bulan awal kepemimpinan mereka?
Sebagai pengamat kebijakan daerah, saya melihat tahun pertama Iqbal-Dinda seperti uji stres besar bagi visi maritim NTB. Berbagai program didorong secara agresif, mulai dari perbaikan infrastruktur pelabuhan, penguatan rantai pasok, hingga digitalisasi data produksi. Namun, di balik deretan angka, terselip dinamika lapangan: adaptasi nelayan tradisional, pergulatan modal UMKM pesisir, serta tantangan birokrasi. Di sinilah kebangkitan sejati diuji, bukan sekadar diklaim.
Tahun pertama Iqbal-Dinda diawali dengan penegasan visi maritim sebagai motor pertumbuhan baru NTB. Fokus anggaran bergeser lebih serius ke sektor kelautan, perikanan tangkap, budidaya, serta pengolahan pascapanen. Pemerintah provinsi tidak lagi memandang laut sebagai sektor pelengkap, melainkan pilar utama setara pariwisata. Perubahan narasi ini penting, karena cara pemimpin berbicara soal laut akan memengaruhi bagaimana birokrasi bergerak maupun bagaimana investor menilai potensi kawasan pesisir.
Langkah pertama tampak pada pemetaan potensi wilayah pesisir lebih rinci. Tahun pertama Iqbal-Dinda ditandai dengan penyusunan basis data spasial, meliputi zona penangkapan ikan, lahan budidaya, serta area konservasi. Upaya ini krusial agar ekspansi ekonomi biru tidak mengorbankan ekologi. Menurut saya, keputusan menempatkan data sebagai fondasi menuju kebangkitan kelautan jauh lebih berharga daripada sekadar proyek fisik besar tanpa arah jelas.
Meski begitu, pengumpulan data saja tidak cukup. Tantangan berikutnya terletak pada kemampuan menerjemahkan peta dan angka menjadi kebijakan konkret bagi nelayan kecil. Tahun pertama Iqbal-Dinda memang telah menghadirkan beberapa intervensi awal, misalnya bantuan sarana penangkapan, pelatihan budidaya bernilai tinggi, serta pendampingan kelompok usaha. Namun kualitas pelaksanaan masih beragam antar kabupaten. Ketimpangan implementasi ini menjadi catatan penting bila visi kebangkitan ingin menyentuh seluruh garis pantai NTB, bukan hanya kantong tertentu.
Salah satu sorotan menarik pada tahun pertama Iqbal-Dinda terletak pada upaya menguatkan infrastruktur kelautan. Beberapa pelabuhan perikanan mulai dipoles, fasilitas bongkar muat dibenahi, serta akses jalan ke sentra produksi diperbaiki bertahap. Perubahan mungkin belum tampak spektakuler, namun nelayan merasakannya lewat waktu sandar yang lebih singkat dan proses distribusi yang sedikit lebih cepat. Untuk produk segar seperti ikan, selisih beberapa jam bisa berarti selisih harga yang signifikan.
Dari sudut pandang saya, kebijakan infrastruktur tidak boleh berhenti pada bangunan fisik. Tahun pertama Iqbal-Dinda perlu dibaca sebagai awal konsolidasi rantai pasok. Cold storage, sistem lelang, fasilitas pengolahan es, hingga gudang beku menjadi elemen penting. Di beberapa titik, mulai muncul upaya menghubungkan nelayan dengan pembeli besar melalui skema kemitraan lebih terstruktur. Meskipun belum ideal, arah perbaikan ini patut diapresiasi karena menyasar persoalan klasik: harga di tingkat nelayan terlalu rendah, margin justru menumpuk pada rantai distribusi.
Kelemahan yang masih saya lihat terletak pada keberlanjutan perawatan infrastruktur. Pembangunan dermaga baru atau renovasi pelabuhan sering kali gencar pada tahun pertama kepemimpinan, demi menunjukkan kinerja cepat. Namun, perawatan berkala, pengelolaan profesional, dan tata kelola transparan kerap tertinggal. Iqbal-Dinda perlu membuktikan bahwa lompatan biru NTB tidak berhenti pada seremoni peresmian, melainkan berjalan konsisten melalui model pengelolaan pelabuhan yang efisien, akuntabel, serta ramah pelaku usaha kecil.
Bagi saya, ukuran sejati keberhasilan tahun pertama Iqbal-Dinda bukan sekadar pertumbuhan produksi atau kenaikan nilai ekspor, tetapi perubahan nyata pada kehidupan nelayan kecil. Program bantuan alat, pelatihan budidaya, hingga akses permodalan memang mulai menyentuh akar rumput, meskipun belum merata. Transformasi biru akan bermakna bila nelayan memiliki posisi tawar lebih kuat, akses informasi harga lebih baik, serta kemampuan mengelola usaha secara mandiri. Bila pemerintah konsisten mengawal kebijakan berorientasi pesisir, sambil menjaga keseimbangan ekologis, maka kebangkitan kelautan NTB bisa menjadi contoh konkret bagaimana satu tahun pertama pemerintahan membuka jalan menuju masa depan ekonomi biru yang inklusif dan berkelanjutan.
www.bikeuniverse.net – Arsenal kembali mencuri perhatian publik sepak bola Inggris. Bukan semata karena skor, tetapi…
www.bikeuniverse.net – Satu tahun kepemimpinan melki-johni di pucuk organisasi GAMKI NTT memasuki fase penilaian serius.…
www.bikeuniverse.net – Suasana di City Ground awalnya terasa datar bagi para pecinta sports, khususnya pendukung…
www.bikeuniverse.net – Liverpool mungkin klub paling akrab dengan drama gol menit akhir. Musim berganti, pemain…
www.bikeuniverse.net – Maarten Paes debut Ajax Amsterdam langsung mencuri perhatian publik Johan Cruyff Arena. Kiper…
www.bikeuniverse.net – Islam digest selalu menarik ketika membahas momen Ramadhan. Bukan sekadar menahan lapar, ibadah…