Rivalitas Sunyi MBS dan Sheikh Mohamed
10 mins read

Rivalitas Sunyi MBS dan Sheikh Mohamed

www.bikeuniverse.net – Di balik sorotan media tentang konflik dan krisis Timur Tengah, bertumbuh persaingan sunyi antara dua tokoh kunci: Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) dan Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohamed bin Zayed (MBZ). Persaingan ini tidak selalu tampak di permukaan. Namun dampaknya mulai terasa pada dinamika regional, hubungan international, sampai peta ekonomi energi global.

Keduanya memanfaatkan kekuatan minyak, investasi sovereign wealth fund, serta jaringan lobi international. Mereka mendorong agenda nasional ambisius yang sering beririsan, kadang bertabrakan. Di satu sisi, kerja sama Riyadh–Abu Dhabi tetap kuat di banyak isu. Di sisi lain, kalkulasi masa depan, ambisi kepemimpinan regional, serta tekanan geopolitik besar membuat hubungan mereka semakin kompleks, bahkan mengandung potensi gesekan serius.

Persaingan International yang Berawal dari Visi Serupa

MBS dan Sheikh Mohamed sama-sama dipandang sebagai arsitek era baru Teluk. Keduanya lahir dari generasi pemimpin yang ingin keluar dari bayang-bayang politik minyak klasik. Mereka membawa visi modernisasi, membuka ekonomi terhadap dunia, memperkuat pengaruh international melalui investasi, pariwisata, serta diplomasi aktif. Menariknya, keserupaan visi justru memicu kompetisi, sebab ruang panggung regional terasa tidak cukup luas bagi dua bintang utama.

Saudi melalui Visi 2030 mendorong transformasi besar. Fokusnya menekan ketergantungan terhadap minyak, membangun sektor pariwisata, hiburan, teknologi, juga infrastruktur megaproyek seperti Neom. UEA, khususnya Abu Dhabi dan Dubai, lebih dulu memposisikan diri sebagai hub international untuk keuangan, logistik, serta gaya hidup mewah. Ketika Saudi mulai mengejar model serupa, jalur kerja sama perlahan berubah menjadi lintasan balap.

Dunia usaha international menyadari perubahan suasana ini. Perusahaan multinasional yang dulu menjadikan Dubai sebagai basis utama regional kini dihadapkan pada insentif agresif Riyadh. Saudi membuka kantor regional, memberikan paket pajak menarik, sekaligus tekanan halus agar perusahan global memindahkan markas Timur Tengah menuju Kerajaan. Langkah ini secara tidak langsung menantang dominasi UEA sebagai gerbang utama ke pasar Teluk dan Afrika Utara.

Dimensi Geopolitik: Dari Yaman hingga Normalisasi

Selain ekonomi, rivalitas MBS–Sheikh Mohamed kian terlihat pada kebijakan luar negeri. Di Yaman, keduanya semula berjalan seirama; membentuk koalisi untuk menghadapi Houthi. Namun seiring berjalannya waktu, perbedaan prioritas muncul. Saudi berkepentingan dengan stabilitas di perbatasan selatan, sementara UEA lebih fokus terhadap pengaruh maritim, pelabuhan strategis, serta sekutu lokal yang menguntungkan kepentingan jangka panjangnya.

Ketegangan juga tampak pada cara keduanya menavigasi hubungan dengan Iran, Turki, hingga Israel. UEA melangkah lebih cepat melalui normalisasi hubungan dengan Israel lewat Abraham Accords. Langkah itu memberi keuntungan citra international sebagai pionir diplomasi baru kawasan. Saudi lebih berhitung, karena MBS memegang peran sebagai penjaga dua kota suci. Setiap manuver terhadap Israel berdampak langsung pada sensitivitas umat Muslim global.

Pada saat sama, Riyadh mengambil inisiatif membuka saluran dialog dengan Iran. Ini mengubah lanskap keamanan Teluk. UEA, yang dulu sangat vokal terhadap Teheran, memilih pendekatan lebih pragmatis serta ekonomis. Hasilnya, dua negara Teluk itu terlihat berlomba menunjukkan siapa lebih efektif menjadi jembatan antara blok-blok bertikai. Persaingan ini membawa konsekuensi luas terhadap arsitektur keamanan regional dan kalkulasi kekuatan besar seperti Amerika Serikat, China, serta Rusia.

Pertarungan Citra di Panggung International

Dimensi lain persaingan tersembunyi tersebut menyentuh ranah citra global. MBS berupaya memposisikan Saudi bukan hanya sebagai eksportir minyak, melainkan pusat kebudayaan, olahraga, juga hiburan international. Investasi besar mengalir ke klub sepak bola, balap motor, event musik, serta festival film. Strategi “sportswashing” dan “nation branding” ini bertujuan menggeser narasi lama yang menempel pada Kerajaan terkait konservatisme sosial serta isu hak asasi manusia.

Sheikh Mohamed, sebaliknya, mengandalkan reputasi UEA sebagai negara kecil yang lincah dan relatif stabil. Abu Dhabi menjejak kuat melalui dana investasi seperti ADQ dan Mubadala, sementara Dubai tetap menjadi simbol keterbukaan dan konektivitas international. Expo 2020, pusat keuangan global, sampai keberhasilan maskapai Emirates dan Etihad membantu mengukuhkan citra bahwa UEA adalah laboratorium masa depan di gurun.

Kedua narasi sering kali saling menegasi, bukan sekadar melengkapi. Ketika Saudi mengumumkan proyek giga-city futuristis, UEA merespons dengan penguatan sektor teknologi hijau, kecerdasan buatan, serta program visa jangka panjang yang menyasar talenta global. Perusahaan, kreator, dan profesional international akhirnya memandang Teluk sebagai arena kompetisi insentif, fasilitas, serta kemudahan regulasi. Masing-masing pemimpin berharap momentum ini mengunci loyalitas jangka panjang dunia usaha terhadap negaranya.

Dampak Ekonomi: Dari Harga Minyak sampai Free Zone

Persaingan MBS dan Sheikh Mohamed juga terrefleksi dalam kebijakan energi. Sebagai dua pemain kunci dalam OPEC+, keduanya memiliki kepentingan berbeda terkait produksi minyak. Saudi cenderung mendorong kebijakan harga lebih tinggi untuk memperkuat kas negara demi ambisi transformasi besar. UEA sering kali ingin meningkatkan kuota produksi, karena telah berinvestasi besar pada kapasitas eksplorasi. Perbedaan sikap ini beberapa kali memicu ketegangan di meja perundingan.

Di luar sektor energi, keduanya menggeber reformasi ekonomi untuk menarik modal international. Saudi meluncurkan kebijakan kewajiban pendirian kantor pusat regional bagi perusahaan yang ingin mengakses kontrak pemerintah. Ini dibarengi paket insentif fiskal, kawasan ekonomi khusus, serta komitmen belanja infrastruktur yang masif. UEA mengandalkan pengalaman panjang mengelola free zone, sistem pajak yang ramah usaha, serta lingkungan sosial yang dianggap lebih fleksibel oleh ekspatriat.

Dari sudut pandang investor, kompetisi ini memiliki dua sisi. Di satu sisi, pilihan semakin banyak, insentif kian menarik, juga peluang proyek raksasa terbuka lebar. Di sisi lain, risiko geopolitik meningkat, sebab setiap ketegangan antara Riyadh dan Abu Dhabi dapat mengubah regulasi, prioritas, sampai akses pasar. Bagi pelaku bisnis international, memahami dinamika personal dua pemimpin menjadi bagian penting analisis risiko kawasan.

Koalisi, Bukan Persahabatan Tanpa Syarat

Sering kali hubungan Saudi–UEA digambarkan sebagai aliansi kokoh. Keduanya pernah kompak memboikot Qatar, menekan kelompok Islam politik, serta memerangi kelompok ekstremis. Namun jika dilihat lebih dekat, hubungan ini lebih tepat disebut koalisi kepentingan, bukan persahabatan tanpa syarat. Saat kepentingan nasional mulai berbeda, garis halus solidaritas berubah menjadi medan tawar-menawar keras.

Kasus Yaman, krisis Teluk, hingga strategi berhadapan dengan Turki serta Iran menunjukkan pola tersebut. Ketika UEA merasa biaya konflik Yaman terlalu tinggi terhadap kepentingan jangka panjangnya, Abu Dhabi mengurangi peran militer, memilih kekuatan proksi lokal. Saudi, yang menanggung langsung ancaman di perbatasan, tidak punya kemewahan mundur cepat. Perbedaan itu melahirkan ketegangan struktural yang sulit dipulihkan sepenuhnya.

Dalam konteks lebih luas, persaingan ini juga soal siapa akan menjadi suara utama Teluk di forum international. Apakah Riyadh, dengan bobot demografis, religius, dan ekonomi lebih besar? Ataukah Abu Dhabi–Dubai, dengan reputasi sebagai pelopor inovasi dan pusat keuangan global? Jawabannya kemungkinan bukan salah satu, tetapi kombinasi tidak seimbang. Namun proses menuju keseimbangan baru akan sarat friksi, manuver, serta momen tarik-ulur pengaruh.

Peluang Kolaborasi di Tengah Rivalitas

Meskipun rivalitas sering disorot, potensi kolaborasi tetap signifikan. Keduanya menghadapi tantangan serupa: transisi energi, diversifikasi ekonomi, serta kebutuhan membangun ekosistem teknologi hijau. Kerja sama mereka pada proyek interkonektivitas energi, keamanan maritim, juga stabilitas kawasan masih sangat diperlukan. Tanpa koordinasi, risiko salah kalkulasi dapat menimbulkan gejolak yang merugikan semua pihak.

Dalam konteks international, baik Saudi maupun UEA harus berhadapan dengan kenyataan bahwa kekuatan besar memiliki agenda sendiri. Amerika Serikat, China, dan Rusia menjalin hubungan berbeda dengan Riyadh serta Abu Dhabi. Terkadang kepentingan negara-negara besar ini saling tumpang tindih. Koordinasi antara MBS dan Sheikh Mohamed justru menjadi kunci guna memastikan agenda nasional mereka tidak terseret konflik proksi yang tak terkendali.

Bagi kawasan, kolaborasi selektif bisa menjadi jalan tengah. Mereka dapat bersaing pada sektor pariwisata atau jasa keuangan, namun tetap bersatu ketika menyangkut stabilitas Selat Hormuz, arsitektur keamanan Teluk, ataupun negosiasi iklim global. Momen seperti COP28 di UEA dan event international lain di Saudi bisa menjadi panggung uji coba formula “bersaing sambil berkolaborasi” yang lebih dewasa.

Pandangan Pribadi: Persaingan Perlu, Eskalasi Tidak

Dari kacamata pribadi, rivalitas MBS dan Sheikh Mohamed justru bisa membawa efek positif jika terkelola. Kompetisi mendorong inovasi kebijakan, mempercepat reformasi, serta membuka lebih banyak peluang bagi pelaku usaha international maupun talenta muda regional. Namun garis antara persaingan sehat dan eskalasi berbahaya sangat tipis. Saat ego kepemimpinan lebih dominan daripada kalkulasi rasional, risiko konflik kebijakan, bahkan ketegangan keamanan, meningkat tajam. Masa depan Timur Tengah akan sangat dipengaruhi kemampuan dua pemimpin tersebut menyeimbangkan ambisi pribadi, kepentingan nasional, serta tanggung jawab regional.

Penutup: Cermin Ambisi, Ujian Kematangan Kawasan

Pertarungan tersembunyi antara MBS dan Sheikh Mohamed adalah cermin ambisi generasi baru pemimpin Teluk. Mereka ingin keluar dari ketergantungan minyak, membangun ekonomi berbasis jasa dan teknologi, serta mengukir nama di panggung international. Namun ambisi tanpa rem bisa mengubah kompetisi menjadi perlombaan tanpa aturan, di mana stabilitas kawasan dikorbankan demi gengsi jangka pendek.

Bagi masyarakat luas, penting melihat dinamika ini dengan sudut pandang lebih seimbang. Tidak sekadar terpukau oleh gemerlap proyek futuristis atau festival olahraga besar, tetapi juga mengawasi bagaimana kebijakan tersebut mempengaruhi hak warga, distribusi kesejahteraan, serta arah demokratisasi. Persaingan MBS–Sheikh Mohamed bukan hanya bercerita tentang dua tokoh kuat, melainkan tentang jutaan orang yang hidup di bawah kebijakan mereka.

Pada akhirnya, masa depan hubungan Saudi–UEA, juga posisi Teluk di tatanan international, bergantung pada sejauh mana para pemimpin mampu mengubah kompetisi menjadi katalis kemajuan kolektif. Jika mereka berhasil menahan dorongan saling menjatuhkan dan memilih jalur kolaborasi strategis, Timur Tengah berpeluang keluar dari stereotip kawasan konflik menjadi pusat gravitasi ekonomi baru. Jika tidak, sejarah mungkin hanya akan mengingat periode ini sebagai babak lain persaingan ego yang mahal biayanya, baik bagi kawasan maupun dunia.